ARTIKEL HUBUNGAN ANTARA NUSANTARA DAN TURKI USMANI


HUBUNGAN antara NUSANTARA dan TURKI USMANI 
 Oleh : Nafilatur Rosyida 

                                                                          ABSTRAK 

 Islam sebenarnya sudah hadir di Nusantara sejak masa yang awal, sejak abad pertama Hijriah menurut Hamka dan beberapa peneliti lainnya. Jarak antara Nusantara dan pusat kemunculan Islam memang jauh dan mempengaruhi lambatnya proses perkembangan Islam di Nusantara. Meskipun demikian, jalur perdagangan di Samudera Hindia yang telah menghubungkan kedua kawasan ini beberapa abad sebelum munculnya Islam menjadikan penyebaran Islam di Nusantara sejak abad ke-7 Masehi sebagai sebuah keniscayaan. Hubungan antara Nusantara dan Timur Tengah pada sepanjang sejarahnya dapat dikatakan lebih banyak bersifat hubungan antar masyarakat ketimbang antar pemerintahan. Berbicara tentang hubungan Nusantara dan Timur Tengah tentu sangat luas cakupannya. Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas mengenai hubungan awal antara Nusantara dengan Turki, terutama antara Aceh dan Turki usmani.

 Kata Kunci : Aceh, Turki Usmani, Nusantara
   
PEMBAHASAN 

Abad ke-16 menjadi awal hubungan antara Nusantara dan Turki. Pada abad tersebut, orang-orang Turki sudah tercatat sebagai bagian dari para pedagang yang hadir di utara pulau Sumatera. Kekhalifahan Turki Usmani memiliki posisi sentral dalam dinamika politik di dunia Melayu. Turki Usmani diakui sebagai pusat kekuasaan Islam dimana kerajaan di Melayu-Nusantara berusaha menjalin kerjasama politik, militer, dan perdagangan. Kemudian dalam pembahasan ini, Aceh adalah kerajaan Nusantara terdepan dalam membangun aliansi kekuatan dengan Turki Usmani. Hubungan antara Aceh dan Turki pada abad ke-16 ternyata tidak hanya sebatas hubungan perdagangan. Bersamaan dengan jatuhnya Kerajaan Malaka serta hadirnya ancaman Portugis di Selat Malaka, kerajaan Aceh tumbuh besar sebagai kekuatan politik dan perdagangan, melanjutkan kedudukan Pasai serta menggantikan posisi strategis Malaka. Di tengah proses konsolidasi kekuatan politik, Aceh harus berhadapan dengan Portugis yang sudah berkuasa di Malaka sejak 1511. Bagi Aceh, Portugis-Malaka merupakan persoalan yang dapat menghambat perkembangan Aceh menjadi kerajaan termasyhur di barat Nusantara. Dalam hal inilah Aceh menjalin kerjasama dengan Turki Usmani, yang sedang hadir sebagai kekuatan Islam terdepan di Timur Tengah dan juga sedang terlibat dalam jalur perdagangan rempah di Lautan India. Keberhasilan Turki Usmani menguasai wilayah yang luas telah memperkuat citranya sebagai garda terdepan dalam membela ortodoks Sunni. Dan citra tersebut semakin kuat ketika Sultan Selim I (1512-1520) menggunakan gelar khalifah dan “Pelayan Tanah Suci” (Khadim al-Haramayn). Dalam hal ini para sultan usmani menjamin keamanan perjalanan ibadah haji, termasuk yang berasal dari kawasan Nusantara. Mereka dapat langsung ke Mekkah tanpa hambatan. Bahkan, Sultan Sulaiman I (1520-1566) pada 1538 melepas armada di bawah komando Gubernur Mesir Khadim Sulaiman Pasha untuk membebaskan semua pelabuhan yang dikuasai Portugis dan mengamankan pelayaran haji ke Jeddah. Karena hal tersebut, kemudian menciptakan jaringan intelektual keagamaan diantara Nusatara dan Turki Usmani. 

 Hubungan diplomatik Aceh-Usmani terus berlanjut pada masa selanjutnya. Pengganti kedua Al-Kahar, Sultan Mansur Shah (1577-1588) diketahui telah memperbarui hubungan diplomatic dan militer. Berikutnya juga dilakukan oleh Sultan Alauddin Ri’ayat Shah (1588-1604). Bahkan dengan berpatokan pada sumber-sumber Aceh, hubungan dengan Turki Usmani terus berlanjut pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Beberapa ahli berpendapat bahwa hubungan mereka hanya berlangsung pada abad ke-16 saja. Setelah itu di abad 17 tidak ada bukti yang menunjukkan terjalinnya hubungan seperti sebelumnya. Terlepas dari itu, Aceh tampil sebagai salah satu pusat Islam di Nusantara yang salah satunya Turki menjadi unsur budaya di dalamnya. Hubungan diplomasi dan keagamaan dengan Turki Usmani telah berpengaruh besar bagi Aceh untuk menjalin hubungan dengan pusat-pusat Islam di Timur Tengah, India, Anatolia, dan Persia dan menjadi pusat Islam terkemuks di Melayu pada abad ke-17. Aspek budaya ini yang menjadi point utama hubungan Aceh dan dunia Muslim menggantikan hubungan politik formal dengan Turki Usmani yang mulai berakhir pada abad ke-16. 

 Meski hubungan antara Aceh-Usmani berakhir pasa awal abad ke-17, namun bukan berarti relasi ekonomi dan kebudayaan juga berakhir. Dalam artikel “The Economic Relationship Between Ottoman Empire and Southeast Asia In The Seventeeth Century”, A.C.S. Peacock berpendapat bahwa konsumen Usmani banyak yang sadar dengan barang yang dikonsumsi seperti lada dan cengkeh dari Asia Tenggara. Hal ini kemudian menarik mereka terhadap Asia Tenggara. Kemudian Negara Usmani mengekspor pakaian dan karpet Turki. Karena adanya hubungan ekonomi, maka banyak intelektual Usmani yang tertarik dengan Asia Tenggara. Pada abad ke-19, hubungan antara Aceh-Usmani muncul kembali. Pada saat itu, Belanda mulai masuk ke Sumatera yang membuat kesultanan Aceh yaitu Sultan Mansur Shah khawatir, sehingga ia membangun hubungan kembali dengan Turki Usmani yang telah lama vakum. Lalu, ia meminta deklarasi atau firman dari Turki Usmani yang menerima posisi Aceh sebagai bawahan Turki dan mengirim utusan Aceh ke Istanbul pada tahun 1851. 

Jejak-jejak Turki di Aceh dapat dilihat seperti makam-makam di Gampong Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Itulah yang menjadi bukti sejarah hubungan antara Aceh dan Turki Usmani. Disitu juga terdapat makam para ulama, guru hingga prajurit Turki. Sementara penyebaran dan perkembangan agama Islam khususnya di Aceh pun tidak terlepas dari peran ulama asal Turki, Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi yang kemudian dikenal dengan Tengku Syeikh di Bitai. 

  KESIMPULAN 

 Abad ke-16 menjadi awal hubungan antara Nusantara dan Turki. Pada abad tersebut, orang-orang Turki sudah tercatat sebagai bagian dari para pedagang yang hadir di utara pulau Sumatera. Keberhasilan Turki Usmani menguasai wilayah yang luas telah memperkuat citranya sebagai garda terdepan dalam membela ortodoks Sunni. Hubungan diplomatik Aceh-Usmani terus berlanjut pada masa selanjutnya. Meski hubungan antara Aceh-Usmani berakhir pasa awal abad ke-17, namun bukan berarti relasi ekonomi dan kebudayaan juga berakhir. Pada abad ke-19, hubungan antara Aceh-Usmani muncul kembali. Jejak-jejak Turki di Aceh dapat dilihat seperti makam-makam di Gampong Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Itulah yang menjadi bukti sejarah hubungan antara Aceh dan Turki Usmani. 

  DAFTAR PUSTAKA 

Fitriyah, Lailatul. 2019. Perang aceh 1873-1903 (Surutnya Hubungan Diplomasi Kesultanan Aceh dan Turki Usmani. SPI. Fakultas Adab dan Humaniora. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Widianto, Asfa. 2016. Pasang Surut Hubungan Aceh dan Turki Usmani : Perspektif Sejarah. Studia Islamica, 23(2), 2. Supratman, Frial Ramadhan. 2017. Memetakan Relasi Historis Antara Negara Usmani, Turki, dan Asia Tenggara. Lembaran Sejarah. 13(1), 118-119. Zubaidi, Hayatullah. 2018. Kepentingan Usmani Menjalin Hubungan Dengan Kerajaan Aceh Darussalam. Jurnal Peurawi. 1(2), 117.

Komentar